April 6, 2025

Pengadilan Agama Banyumas – Pemerintahan

Info Berita dan Pemerintahan Banyumas

Pasangan Muda Riskan Perceraian

Pasangan Muda Riskan Perceraian. Pernikahan awalnya kerap jadi salah satu penyebab tingginya angka perpisahan di Indonesia. Ini dikarenakan oleh berbagai ragam faktor yang punya pengaruh negatif pada kualitas hubungan pernikahan. Pada umur yang muda, seorang umumnya belum memiliki kematangan emosional, pekerjaan atau penghasilan teratur, dan penyiapan saat temui berbagai ragam persoalan yang mungkin muncul di pernikahan.

Berikut beberapa argument mengapa pasangan yang menikah muda riskan pada perpisahan.

1. Ketidaksiapnya Mental
Pada usia yang muda, seorang cenderung ingin hidup bebas dan belum memiliki kematangan emosional yang cukup. Ini kerap dikarenakan oleh ketidaksiapnya mental dari kedua pasangan. Usia fisik dan mental yang muda biasanya belum dibarengi kematangan berpikir yang memadai. Menyebabkan, pasangan yang menikah pada berusia muda kerap tidak siap temui berbagai ragam risiko atau persoalan yang muncul di pernikahan.

2. Ketidakmapanan Ekonomi
Selain ketidaksiapnya mental, faktor ekonomi mainkan peran penting dalam pernikahan dini. Pada umur yang muda, seorang umumnya belum memiliki pekerjaan atau penghasilan yang stabil. Ini punya pengaruh pada kondisi keuangan rumah tangga yang kurang mencukupi. Saat kepentingan di rumah tangga tidak dapat terpenuhi dengan baik, pasangan cenderung sama menyalahkan atau memutuskan untuk berpisah.

3. Ketidaksiapnya Memiliki Anak
Memiliki anak pada berusia muda ialah halangan tersendiri. Pasangan muda seringkali kehilangan banyak sekali waktu untuk bersama dan harus mampu membagi waktu dan tugas waktu mengasuh anak. Selain itu, dibutuhkan keuangan yang cukup untuk jaga anak. Jika ini tidak terpenuhi, karena pasangan muda cenderung memiliki ego lebih tinggi dan kurang mampu bekerja sama dengan baik, karena itu betul-betul riskan terjadi bentrokan yang berekor pada perpisahan.

4. Persoalan Mental
Ketidaksiapnya saat temui halangan pernikahan pada berusia muda seringkali menyebabkan persoalan mental. Banyaknya persoalan yang terdapat membuat pasangan merasa tertekan pada psikis, karena mereka harus sedang pikirkan banyak hal yang berbeda dari saat pacaran. Kondisi ini membuat pasangan muda riskan alami stres dan depresi.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) – Pasangan Muda Riskan Perceraian

Ketidakstabilan emosi pada pasangan muda seringkali membuat mereka sulit atur amarah waktu temui masalah. Ini dapat memicu berjalannya kekerasan di rumah tangga, baik secara psikis atau fisik. Menurut sebuah riset, 44 % kasus KDRT terjadi pada pernikahan pada umur muda.

Untuk menghalangi semakin ramainya pernikahan awalnya, terutama di masa pandemi, masyarakat perlu memberi support ketetapan terkait batas usia menikah, memberikan pengetahuan yang baik ke sejumlah anak, dan memberi support mereka saat tingkatkan kemampuan diri. Evaluasi terkait kelebihan penyiapan mental, emosional, dan keuangan sebelum menikah harus terus ditingkatkan untuk turunkan angka perpisahan yang dikarenakan oleh pernikahan dini.

6. Kurangnya Pengalaman Hidup
Pasangan yang menikah pada berusia muda biasanya belum memiliki cukup pengalaman hidup yang memadai. Pengalaman hidup ini penting untuk membikin dasar yang kuat dalam pernikahan. Tanpa pengalaman yang cukup, pasangan muda seringkali tidak memahami cara terbaik untuk tangani berbagai ragam persoalan yang muncul di pernikahan, sampai lebih riskan pada perpisahan.

7. Penekanan Sosial dan Budaya
Di beberapa daerah, penekanan sosial dan budaya untuk menikah muda masih kuat. Pasangan muda yang menikah karena penekanan sosial ini kerap tidak benar-benar siap untuk lalui kehidupan pernikahan. Mereka mungkin merasa terbebani oleh keinginan lebih tinggi dari kelwarga dan uarga , yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas hubungan mereka.

Kurangnya Dukungan dari Keluarga

Pasangan yang menikah pada berusia muda kerap tidak mendapat dukungan yang hanya cukup dari keluarga. Walaupun sebetulnya, dukungan keluarga penting untuk membantu pasangan tangani berbagai ragam halangan dalam pernikahan. Tanpa dukungan yang bagus, pasangan muda dapat merasa kesulitan saat temui persoalan dan lebih riskan pada perpisahan.

9. Kesulitan Menyamai Pendidikan dan Pernikahan
Banyak pasangan muda yang masih tetap lalui pendidikan saat mereka menikah. Menyamai antara pendidikan dan pernikahan jadi halangan tersendiri. Penekanan untuk sukses di sekolah atau perguruan tinggi, dipertambah tanggung-jawab pernikahan, jadi beban yang berat untuk pasangan muda. Ini bisa menyebabkan stres dan konflik yang pada akhirnya tambahkan imbas negatif perpisahan.

10. Ketidaksamaan Karakter
Pasangan yang menikah pada berusia muda seringkali belum sepenuhnya mengenal karakter masing-masing. Mereka mungkin menikah karena cinta muda yang penuh gairah tanpa pikirkan kecocokan karakter secara mendalam. Ketidaksamaan karakter ini jadi sumber konflik dalam pernikahan yang sulit diselesaikan, sampai tambahkan imbas negatif perpisahan.

Untuk menghalangi pernikahan awalan yang semakin ramai, penting untuk masyarakat untuk memberi support ketetapan yang mengatur batas usia menikah, memberikan evaluasi yang cocok terkait penyiapan mental dan keuangan sebelum menikah, dan gerakkan anak-anak untuk fokus pada kenaikan pendidikan dan diri. Dengan demikian, diharapkan angka perpisahan yang dikarenakan oleh pernikahan awalnya dapat berkurang.

Share: Facebook Twitter Linkedin